Senin, 22 Juni 2020

[Review Buku] Tentang Kamu



[ REVIEW BUKU ] TENTANG KAMU


Penulis                         : Tere Liye
Editor                           : Triana Rahmawati
Desainer Sampul        : Resoluzy
Penerbit                       : Republika
Jumlah halaman         : ii-524 hlm

“ Terimakasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.”  
Setelah sebulan lebih mengumpulkan niat untuk menulis, sekarang balik lagi untuk membahas buku Tentang Kamu. Sebenarnya sering banget lihat buku ini di toko buku tapi selalu gue lewatin. “Tentang Kamu” judulnya aja sudah buat gue berpikir ini buku bakalan bergendre romance yang sedang gue hindarin beberapa bulan ini. Tapi sudah engga bisa diraguin lagi karya-karya penulis Tere Liye yang berhasil membuat pembacanya terkagum-kagum. Buku ini sekarang menjadi salah satu buku favorit gue.
Tentang Kamu buku novel biografi ini berkisah tentang seorang bernama Sri Ningsih, kisah perjalanan hidupnya dari kecil hingga tutup usia. Semua kisahnya yang ditulis lembar demi lembar ini penuh kejutan. Gue bahkan selalu bertanya bagaimana seorang Tere Liye ini bisa menulis kisah yang luar biasa.
Di dalam buku ini gue seperti diajak berpetualang oleh salah satu karakter Zaman Zulkarnaen (pengacara dari Thompson and Co) yang sedang menelusuri jejak kehidupan Sri Ningsih wanita sederhana, tangguh dengan segala pemikirannya yang brilliant. Buku ini sangat menyentuh dan buat gue nangis! huftt… lemahnya hati gue ini. Selain itu banyak latar tempat yang menjadi setting cerita tersebut juga nyata, ini salah satu yang menarik dari membaca buku adalah kita jadi banyak tahu nama tempat di dunia.

Zaman Zulkarnaen : Seorang pengacara muda di firma hukum Thomson and Co, firma hukum ini berbeda dengan firma hukum lainnya, mereka berdiri atas prinsip-prinsip, tidak seperti kebanyakan firma hukum lainnya yang memburu harta warisan atau disebut dengan heir hunters. Heir Hunters akan mencari pewaris siapa pun yang boleh jadi keturunan atau kerabat jauh, dengan meminta bagian 20%, 40%, atau pada kasus tertentu mereka akan mendapatkan bagian lebih besar dibanding hak warisnya. Wah gue langsung kepikiran untuk buat surat wasiat mulai sekarang :D. 
            Di sini Zaman ditugaskan untuk memegang kasus, seorang wanita tua berumur 70 tahun yang belasan tahun tinggal di panti jompo dengan memegang surat kepemilikan saham senilai 1% diperusahan besar. Dari sini kita mulai diajak berpetualang oleh karakter Zaman, dimulai dari buku harian yang ditemukan di panti jompo.
“  JUZ PERTAMA, Tentang Kesabaran 1946 – 1960
Terimakasih banyak atas pelajaran tentang kesabaran. Bapak, aku akhirnya memahaminya. Apakah sabar memiliki batasan? Aku tahu jawabannya sekarang. Ketika kebencian, dendam kusumat sebesar apapun akan luruh oleh rasa sabar. Gunung-gunung akan rata, lautan akan kering, tidak ada yang mampu mengalahkan rasa sabar. Selemah apapun fisik seseorang, semiskin apapun dia, sekali dihatinya memiliki rasa sabar, dunia tak bisa menyakitinya…” hlm 48.
JUZ KEDUA, Tentang Persahabatan 1961 – 1966
Apa arti persahabatan? Apa pula arti pengkhianatan? Apakah sahabat baik akan mengkhianati sahabat sejatinya? Bapak, Ibu, ternyata Sri bukan sahabat yang baik. Sri telah mengkhianati teman terbaik. Sri hanya memilih, sahabat sejati atau kebenaran… Bertahun-tahun kejadian tersebut telah berlalu, tapi Sri tetap tak bisa mengusir rasa bersalah. Di sini, diperkampungan santri dekat pabrik gula, dengan loji, kereta lori, cerobong raksasa menjadi saksi, betapa keserakahan bisa mengubah orang lain lebih dari binatang buas…” hlm 141 – 142.
JUZ KETIGA, Tentang Keteguhan Hati 1967 – 1979
Saat kita melakukan yang terbaik dan tetap gagal, apa lagi yang harus kita lakukan? Berapa kali kita harus mencoba hingga tahu bahwa kita telah tiba pada batas akhirnya? 2x, 5x, 10x, atau berpuluh-puluh kali hingga kita tak dapat menghitungnya lagi? Berapa kali kita harus menerima kenyataan, untuk tahu bahwa kita memang tidak berbakat, sesuatu itu bukan jalan hidup kita, lantas melangkah mundur? Aku sekarang tahu jawabannya…”  hlm 209 - 210.
JUZ KEEMPAT, Tentang Cinta 1980 – 1999
Kota London, ibu kota Inggris, Eropa, dan dunia. Tempat berbagai suku bangsa, agama, ras, dan bahasa berkumpul. Tempat berbagai kesempatan, pertemuan, pun perpisahan terjadi. Juga tempat jatuh cinta yang indah dan abadi. Sambil menatap langit mendung, gerimis menyiram jalan kota yang ramai. Atau kabut yang membawa rintik air menerpa wajah, sambil berpegangan tangan di taman-taman kota yang hijau. Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugrah terbesar dalam hidupku…” hlm 286.
JUZ KELIMA, Tentang memeluk rasa sakit 2000
Ibu, Bapak, bagaimana agar kita berdamai dengan begitu banyak kejadian yang menyakitkan?  Bagaimana jika semua hal menyesakkan itu ibarat hujan deras di tengah lapangan, kita harus melewati lapangan menuju tempat terteduh di seberang, dan setiap tetes air hujan laksana setiap hal menyakitkan dalam hidupku?...” hlm 457.
            Mulai dari sini potongan-potongan kehidupan Sri mulai tersusun seperti sebuah puzzle. Zaman mulai menelusuri potongan kehidupan Sri, ternyata tidak mudah yang dibayangkan. Hanya sedikit data yang mengenai Sri Ningsih, belum lagi hanya hitungan hari waktu yang dimiliki Zaman untuk menyelesaikan kasusnya. 
Ada beberapa point yang menurut gue sangat bagus yaitu tentang Sri Ningsih yang gemar membaca dan belajar,  ketika Sri belajar tentang hukum-hukum saat masih tinggal di panti jompo. Di saat yang lain menghabiskan waktunya mengobrol dan menonton televisi, Sri tebenam dalam buku-bukunya. Selain itu disetiap Juz pada diarynya, seperti pada Juz pertama mengajarkan tentang kesabaran memiliki banyak kekuatan. Gue bahkan sampai saat ini masih bertanya-tanya apakah kesabaran ada batasnya?.
Didalam buku ini juga banyak kalimat-kalimat yang bagus yaitu, “saat kita sudah melakukan yang terbaik dan tetap gagal, apa lagi yang harus kita lakukan?” hlm 209. “ banyak momen berharga dalam hidup datang dari hal-hal kecil yang luput kita perhatikan, karena kita terlalu sibuk mengurus sebaliknya”. Hlm 257.
Selain itu buku ini juga menyinggung sedikit tentang kehidupan modern yang individualis, saat ini kita mengandalkan teknologi untuk menyapa. Keluarga-keluarga terpisah secara fisik dan emosional dan bertemu hanya di hari penting pernikahan dan pemakaman. Alamat fisik tidak lagi penting digantikan no HP, email, akun sosial media dan sebagainya. Pada akhirnya menghancurkan ikatan keluarga lebih masif dari pada peperangan. Kita bahkan sudah tidak tahu lagi dari mana garis keturunan kita (selain kita memang keturunan nabi adam).
Dan yaaa buku ini sangat bagus… sampai saat ini gue selalu bertanya apakah ada seorang seperti Sri Ningsih ya? Sederhana namun tetap dengan pendirian dan mentalnya yang kuat! Keren… setelah selesai baca ini gue mulai tahu kenapa buku ini berjudul Tentang Kamu dan juga cover bukunya sangat menggambarkan isi buku ini. highly recommended!!  oh yaa Enjoy your life guys!!!  





Senin, 13 April 2020

[Review Buku] Filosofi Teras


[ REVIEW BUKU ] FILOSOFI TERAS



Penulis                         : Henry Manampiring
Editor                           : Patricia Wulandari
Desainer Sampul        : Levina Lesmana
Penerbit                       : Kompas
Jumlah halaman         : xxiv-320 hlm

Filosofi teras salah satu buku yang sedikit banyaknya mengubah cara berpikir gue pribadi. Buku ini hadir ketika gue sedang galaunya tugas akhir!. Sejujurnya gue tipe orang yang gampang panik jika dihadapkan dengan suatu masalah, gampang marah, ribet, atau kadang suka menyalahkan diri gue ketika tidak bisa melakukan yang orang lain bisa! Serius ini buat frustasi!. Akhirnya bertemu dengan buku ini, setelah sekian banyak video yang gue tonton tentang mental health.
Filosofi teras yang ditulis oleh Henry Manampiring ini mengulas tentang ajaran filsafat yang sudah lebih dari 2000 tahun. Di dalam filsafat ada ajaran yang baik untuk kesehatan mental, namanya “Stoisisme” dan para pengikutnya disebut “stoa” yang dalam Bahasa yunani berarti “Teras”. Disebut stoa atau berarti teras, karena saat itu filsuf-filsuf yunani kuno sering mangajar di teras-teras berpilar, sesederhana itu.
Dalam buku ini terdapat 12 bab dengan 312 halaman, wow sudah buat pusing duluan. Jangan khawatir buku ini worth it banget untuk mengisi waktu kalian. Salah satu babnya yaitu tentang “Hidup Selaras dengan Alam” (in accordance with nature). Maksudnya adalah dalam konteks nature ini, stoisisme menekankan satu-satunya hal yang dimiliki “manusia” yang membedakan dengan “binatang” yaitu nalar, akal sehat, rasio dan kemampuannya menggunakan hal tersebut dalam hidup.
Dikotomi kendali bab yang mengubah pemikiran gue. Dalam bab ini mengajarkan bagaimana cara kita bersikap dengan cara hanya memperhatikan apa yang ada dalam kendali kita tanpa perlu memikirkan yang diluar kendali kita.
“some things are up to us, some things are not up to us.”- Epictetus hlm 42.
Stoisisme mengajarkan bahwa kebahagian sejati hanya bisa datang dari “things we can control” hal-hal yang berada dibawah kendali kita. Sedangkan kita tidak bisa menggantungkan kebahagian kita dengan hal-hal yang diluar kendali kita seperti perlakuan orang lain, opini orang lain, status dan popularitas.
Salah satu contoh yang realistis dan pas banget gue temuin adalah saat gue mengahadapi sidang skripsi. Hal yang dalam kendali gue adalah menyiapkan bahan presentasi sebaik mungkin, memahami materi dan belajar cara presentasi yang baik. Hal yang di luar kendali kita adalah jalanan macet saat datang ke kampus, alat peresentasi seperti proyektor yang tidak bisa hidup ketika kita akan tampil, pendapat penguji dan nilai yang akan dikasih oleh penguji. Semua itu gue terapkan ketika sidang, dan hasilnya apa? Melegakan… ya gue jauh lebih tenang dari sebelumnya, dulu gue adalah orang yang sangat terobsesi dengan sesuatu hal yang diinginkan seperti contohnya nilai dan ketika gue tidak mendapatkan sesuai ekspetasi, gue akan mengutuk diri sendiri dengan seberapa bodohnya gue. Sadis…
Lalu dengan dikotomi kendali apakah stoisisme mengajarkan kita untuk Pasrah pada keadaan? Tentu tidak, disemua situasi bahkan saat kita merasa tidak ada kendali sekalipun, selalu ada bagian di dalam diri kita yang tetap merdeka, yaitu pikiran dan persepsi. Dalam bukunya ada beberapa contoh seperti Viktor Frankl, seorang psikiater yang hidup di Austria saat perang Dunia II. Frankl dan keluarganya ditangkap dan dikirim ke ghetto Yahudi, lalu dipindahkan ke kamp konsentrasi. Keluarganya meninggal dan selama di kamp konsentrasi tersebut Frankl tetap aktif bekerja menyediakan kelas pengajaran dan juga layanan kesehatan bagi sesama tahanan, sampai akhirnya dia dibebaskan. Frankl kembali ke Vienna dan menulis sebuah buku tentang pengalamannya selama di kamp konsentrasi. Bukunya berjudul Men’s Search For Meaning.
Dari pengalaman tersebut, Frankl menyimpulkan bahwa di dalam situasi yang paling menyakitkan dan tidak manusiawipun, hidup masih memiliki makna dan karenanya penderitaanpun masih bermakna. Kita tidak bisa memilih situasi kita, tapi kita bisa menentukan sikap kita atas situasi yang kita alami.
“tidak ada kemerdekaan yang benar-benar hilang bahkan di situasi di mana seolah kebebasan kita sudah direnggut sama sekali atau situasi yang tampak sangat gelap sekalipun...”-hlm 53.
Mungkin contoh di atas terlalu extreme, mana bisa ada orang yang bisa tenang di situasi yang membatasi diri seperti itu? Nyatanya memang ada dan kita bisa menerapkan perlahan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh saat terjebak macet dan kendaraan yang kita tumpangi tidak bisa jalan sama sekali. Kita bisa memilih bersikap marah-marah dan menyalahkan keadaan atau memilih menganggap itu diluar kendali kita lalu manfaatkan waktu dengan membaca buku, artikel atau mendengarkan musik favorit?.  
Contoh yang saat ini sedang happening dengan virus corona yang mengharuskan kita tetap di rumah dan meninggalkan aktifitas sehari-hari (situasi yang di luar kendali), kita bisa memanfaatkan waktu dengan mengasah keterampilan atau hobi? Atau bahkan ini bisa kita anggap sebagai waktu untuk mengenal dan mengintropeksi diri, menghabiskan waktu untuk keluarga? Rasanya ini juga cukup berarti.
Yaa dari apa yang gue baca dan sedikit menerapkan pada situasi saat ini yang bahkan kita tidak bisa kemana-mana, gue memilih untuk mencoba hal baru seperti mencoba resep makanan yang belum lama ini di posting disosial media pai susu! Yang kenyataannya berbanding terbalik karena gue harus 2 kali membuat pai itu hangus! Hahaha:D yang lebih menariknya tetap habis dimakan.
Okay, gue rasa review buku ini sudah menggambarkan  segitu sukanya gue sama buku ini, buku ini bagus banget untuk kita yang umur 20an dan diatasnya untuk bersikap lebih bijaksana dalam menanggapi situasi yang ada. Semoga bermanfaat, stay safe everyone! enjoy your life! #dirumahaja

Minggu, 22 Maret 2020

[Review Buku] The Alpha Girl's Guide


[ REVIEW BUKU ] THE ALPHA GIRL’S GUIDE



Penulis                         : Henry Manampiring
Editor                           : Alaine Any
Desainer Sampul        : Gita Ramayudha
Penerbit                       : GagasMedia
Cetak                            : Cetak pertama 2015, cetak ketiga 2020
Jumlah halaman         : vi-260 hlm

“ seorang perempuan boleh saja memilih tidak bekerja, tetapi minimal dengan bekal pendidikan akademis yang baik, dia memiliki opsi untuk bekerja dan mandiri kalau situasi memerlukan…” hlm 29.

“great minds discuss ideas.Average minds discuss events.Small minds discuss people.”- Henry Thomas Buckle. 

“if you ask the question, you may look stupid for 5 minutes. If you never ask a question, you may be stupid forever…” hlm 168.

“jika kamu tidak terlahir cantik, itu nasib. Jika kamu tidak tampak menarik, itu salahmu…” hlm 193.


Diatas adalah beberapa kutipan yang menurut gue paling kena banget dihati. Yaap buku karya om piring (katanya ini memang panggilannya di sosial media) memang ga pernah buat kecewa! Setelah pertama kali gue baca karyanya FILOSOFI TERAS (next time gue akan buat review juga) yang berhasil membuat pemikiran gue berubah, kali ini buku The Alpha Girl’s Guide mengubah sudut pandang gue sebagai perempuan.
Buku ini berisikan tip-tip menjadi seorang alpha girls, dalam Bahasa yunani alpha berarti satu. Jadi alpha girls berarti perempuan nomer satu.

“ Alpha female adalah perempuan-perempuan yang berada di puncak karena prestasi dan attitude-nya. Mereka dihormati dan disegani, baik oleh perempuan maupun laki-laki. Mereka percaya diri dan mengoptimalkan potensinya. Menjadi alpha female dewasa bisa dimulai sejak dini dengan menjadi alpha girls.”

Di buku ini secara umum mengutarakan cara alpha girls berpikir, berbicara dan bertindak. Ada beberapa bab dalam buku ini, semua dikemas dengan penulisan yang tetap ringan dengan mengemukakan permasalahan sehari-hari.  Di dalam buku ini juga kita akan menemukan berbagai cara untuk memperbaiki diri, mulai dari cara bergaul dengan teman sekolah dan kampus, cara bekerja, relationship dan memilih pasangan.
The alpha student, pada bab ini berisikan bagaimana cara-cara alpha girls belajar dan mengatur waktu, mengembangkan bakat dan potensi. The alpha friends, membahas bagaimana memiliki pertemanan yang sehat dan pergaulan yang positif.
The alpha lover, berisi tentang bagaimana alpha girls bersikap dalam suatu hubungan dan menangani patah hati dalam suatu hubungan (bagian ini sepertinya gue sampai dua kali baca:’), haha). The alpha professional, ketika alpha girls sudah bekerja tentang bagaimana alpha girls memilih perusahaan apa ketika pertama kali bekerja.
The alpha look, yang memberi saran bagaimana cara berpenampilan sehingga tampak menarik dan menunjukan kualitas diri kita. Selain itu masih ada bab-bab yang sangat menarik dan juga dari beberapa cerita tentang alpha female yang menginspirasi.
Setelah baca buku ini, gue langsung nulis blog… hahaha… padahal blog ini udah ada dari tahun 2015 dan baru sempat nulis sekarang:D, selain kutipan diatas ada beberapa kutipan yang menjadi alasan kenapa gue mulai nulis lagi “if you cannot be the best, be the first”. Walaupun belum bagus-bagus banget nulis setidaknya gue mulai buat satu langkah pertama, yang sepertinya sudah bayak orang lain yang lebih dulu. Tapi waktu seseorang kan beda-beda yekan… jadi santai aja and enjoy your life J.

Selasa, 17 Maret 2020

Green Building kah Kau... Paradigma?

Green Building  kah Kau…Paradigma?

Architecture is a visual art, and the buildings speak for themselves.-Julia Morgan 
Kantor Paradigma, surganya Instagramable! Teks dan Foto : @gilangtyas
    Kantor Golkar atau Paradigma yang banyak dikenal oleh instagramble dan netizen diluar sana. Bangunan depan dilapisi besi dengan daun pepohonan yang menjuntai dan padang rumput hijau terbentang cukup luas memberi efek nyaman. 
       Green building  atau bangunan hijau disini bukanlah bangunan yang berwarna hijau melainkan upaya untuk menghasilkan bangunan dengan menggunakan proses-proses yang ramah lingkungan, penggunaan sumber daya secara efesien mulai dari proses perencanaan, pembangunan, operasional, pemeliharaan, renovasi bahkan sampai pembongkaran. Lebih jelasnya dan yang ga bikin pusing bangunan ini bangunan yang menyesuaikan alam dengan baik dari segi material  desain maupun yang terpenting budget! Yaa tidak lain adalah uang.
       "Tapi kok bangunan green building budget nya lebih mahal dibanding bangunan yang didesain biasa?." Banyak pertanyaan seperti ini yang bermunculan dimasyarakat umum tentu juga dengan saya sebelum kuliah arsitektur. Tapi jika dilihat bangunan ini nyatanya jauh lebih murah dibanding dengan bangunan biasanya. Untuk modal awal yang besar dalam jangka waktu yang lama misalnya desain daur ulang air hujan, material yang digunakan cukup banyak jadi ongkos harga lebih mahal tapi jika kita lihat dari segi waktu air hujan dapat didaur ulang akan lebih murah ketimbang kita harus mengeluarkan ongkos listrik ataupun air pam. Indonesia memiliki 2 musim yaitu musim panas dan hujan, tentu ini menguntungkan! Jadi modal dulu baru hidup enak! hehehe.

KANTOR GOLKAR atau PARADIGMA DI PUSAT KOTA

      Kantor Golkar atau Paradigma ini berlokasi di Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Letaknya tidak jauh dari stasiun Cikini. Gedung kantor pemerintahan partai yang berpusat diperkotaan tak selamanya menjadi bangunan yang bersifat formal dan dihindari, nyatanya bangunan ini menarik peminat masyarakat dan netizen yang haus akan tempat nongkrong yang siap untuk dipajang di akun sosial media.

     Bangunan yang awal mulanya hanya sebuah gedung untuk mewadahi kebutuhan aktivitas perkantoran yang teridiri dari tiga lantai itu, kini disulap menjadi bangunan yang dapat diakses oleh masyarakat umum!. Khususnya di area lantai 1 dengan fasilitas umum seperti, cafe, area komersil, amphiteater, perpustakaan, lapangan umum, kebun urban farming dan masjid. Kabar baik bagi penganut sosial media sebagai salah satu tempat yang diburu untuk feed di instagram!

REVOLUSI LATAR BELAKANG PARADIGMA

      Bangunan yang di desain ulang oleh arsitek muda yaitu Delution Architect, berhasil menyulap bangunan tua dan terkesan tertutup berubah menjadi bangunan yang ramah dan menarik. Dikutip dari blog resminya http://delution.co.id , sang arsitek mengusung tema utama yaitu "Revolusi", dimana bukan hanya membentuk bangunan baru sebagi benda mati, namun juga banyak me-revolusi prilaku serta mental si pengguna yaitu anggota partai itu sendiri. Nah terus apa wujud dari revolusi itu sendiri?...Terdapat 4 point utama pada konsep revolusi ini, yaitu Open and Transparency, Green Reviving, Collaborative Community Hub, dan Raising The Nationalism.
   Dari keempat point tersebut yang menggelitik keingin tahuan saya adalah tentang Green Reviving. Menurut sang arsitek Green Reviving pada desainnya yakni solusi membungkus bangunan lama dengan tanaman untuk menghasilkan satu wajah serta iklim arsitektur yang lebih baik dan modern. 

     Kesan "Hidup Kembali" dari bangunan ini memang terasa. Belum lama ini saya datang kesana untuk melihat dan merasakan langsung bagaimana suasana di sana. Satu kalimat yang terlintas bagi saya mahasiswa arsitektur, "green building kah?..." yap...Bangunan itu terkesan seperti bangunan yang didesain bergaya arsitektur hijau dengan padang rumput luas terbentang menyambut kedatangan saya di sana, yang membuat terkejut itu adalah ilusi belaka. Padang rumput yang membentang luas tersebut bukanlah rumput asli! melainkan rumput sintesis yang menyerupai rumput asli. "lalu apakah ini menyerap air" kalimat kedua ini muncul dibenak. Pada dasarnya prinsip green building adalah bangunan yang tanggap dengan lingkungan sekitar. 
      Rasa penasaran yang tinggi dan seperti kebiasaannya mahasiswa arsitektur selalu menyentuh dan meraba-raba material arsitektur! (jangan ditiru!ini cuma gue aja:'D). Saya akhirnya mencoba memeriksa keadaan di bawah rumput, pada bagian dasar rumput tidak ada hewan yang hidup disana sebagai tokoh utama suburnya sebuah tanah.
      Tidak cukup puas dengan hal itu, saya mencoba mencari tahu tentang rumput sintesis digoogle. Rumput sintesis menjadi salah satu material yang mulai digemari saat ini, karena pemasangan yang mudah dan hemat waktu dibandingkan harus menunggu rumput asli tumbuh hijau. Selain itu perawatan yang mudah menjadi salah satu nilai tambah. 
     Jenis-jenis rumput sintesis ada rumput sintesis golf, rumput sintesis Jepang, dan rumput sintesis Swiss. Dari ketiga jenis tersebut bahan pembuat rumput bukanlah yang menyerap air. Lalu apa benar kantor ini menggunakan kaidah green building pada desainnya?.
       
     Jika dilihat bangunan ini, hampir semua sisi dinding bangunan dibuat terbuka di area cafe lantai satu. Memasuki kedalam ruangan cafe sudah dipenuhi pengunjung, ruangan dibuat terbuka tidak ada batas dinding menyekat hanya teknik kenaikan level lantai sekitar 5-10 cm sebagai pembatas ruangan. Suasananya sedikit pengap, walau ruangan dibuat terbuka dan terdapat banyak tanaman nyatanya itu belum juga berpengaruh karena kondisi Jakarta yang panasnya rata-rata memiliki suhu 28-29° C dengan ditambah penggunjung yang banyak. 
    Masih dalam kondisi memproses visual objek dari mata lalu diterima oleh otak untuk menyimpulkan hasil penglihatan, salah satu pelayan menegur saya menanyakan apa yang bisa dia bantu yang sepertinya melihat saya kebingungan. 
       "Mau pesen minum mas" ucap saya saat itu. "pesannya di depan sana Mbak" ucapnya sambil menunjuk kearah depan counter. "oh...ok makasih" ucap saya langsung meluncur kedepan. Sampainya di counter ternyata saat itu tidak bisa pesan karena sistem pemesanannya sedang error! Astaga! selamat! uang dikantong aman! (lol). Setelah itu saya memutuskan untuk keluar cafe.
     Dari kunjungan saya kesana, tempatnya terasa nyama terlebih suasana yang terbuka di tengah kota yang sibuk berhasil membuat saya berlama-lama di sana. Terlebih lagi di area luar dengan kondisi angin berhembus. Seperti tujuan arsitek dan owner mereka ingin membuat suasan mikro pada lahan sejuk dan dingin dengan memberi tanaman dan mendesain layout terbuka. Walau masih sangat disayangkan area dalam cafe masih terasa panas.
     Tapi overall tempat ini sangat worth it, apalagi dengan fungsi utamanya sebagai kantor pemerintah yang terkesan privat. Desain bangunan ini juga, berperan penting dalam menyehatkan kondisi perkotaann yang sibuk dengan desain ruang terbukannya. Desain ini menjadi angin baru bagi arsitek bahwa tidak selamanya kantor pemerintahan itu tertutup.

[Review Buku] Tentang Kamu

[ REVIEW BUKU ] TENTANG KAMU Penulis                          : Tere Liye Editor                             : Triana Rahmawa...